Kamis, 11 April 2013

Bahan Praktikum Beton


BAB I
PENDAHULUAN

Dalam suatu kontruksi bangunan, beton merupakan bagian yang penting. Berdasarkan hal ini maka analisa dan penelitian terhadap materi dan proses terbentuknya beton sangat dibutuhkan. Sebagai program wajib dalam ilmu bahan bangunan, maka penerapan dasar aplikasinya wajib dikuasai oleh setiap mahasiswa teknik sipil. Hal ini diacukan agar kedepan seorang sarjana sipil dapat menguasai konsep dan analisa kerja saat terjun kedunia kontruksi.
Beton ( concrete ) sendiri adalah bahan bsangunan / kontruksi berupa batu buatan ( Artifisial Stone ) yang homogeny yang diproleh dari pencampuran tiga bahan yaitu semen Portland sebagai bahan pengikat hidrolis, air sebagai bahan pereaksi pengikatan, dan bantuan / agregat sebagai bahan pengisi ( filler ) dan penguat ( strengter ) yang meliputi Agregat kasar ( coarse Aggregate ) dan agregat halus  ( Fine Aggregate ). Dalam hal-hal tertentu campuran diberi bahan tambahan ( Additive ) atau bahan campuran ( admixture ) yang tidak menurun mutu beton sesuai dengan keperluan kontruksi.
Praktikum ini bertujuan memperoleh pengetahuan mengenai perencanaan campuran beton serta keterampilan dalam pelaksanaannya. Untuk mendapatkan  beton yang bermutu baik memiliki daya kuat tekan yang besar, perlu adanya suatu analisa labolatorium terhadap beberapa factor penyusun terbentuknya beton, yang meliputi sifat-sifat fisis berupa :
v  Susunan butiran ( Sieve Analysis )
v  Berat Volume ( Bulk Debsity )
v  Berat Jenis ( Specific Grafity )
v  Penyerapan ( Absorption )
v  Kelembaban ( Moisture Contain )
v  Modulus Kehalusan ( Fineness Modulus )
v  Kandungan Lumpur ( Claylumps )
Pada air dan semen tidak dilakukansuatu analisa khusus karena dianggap telah memenuhi standar syarat PBI 1971 NI-2.
Seelah dilaukan pemeriksaan terhadap agregat baru dilaksanakan Mix Design atau rencana campuran beton berdasarkan pada ketentuan SK..SNI. T-15 1990-03 yang dikombinasikan dengan ketentuan peraturan beton bertulang Indonesia ( PBI 1971 ).
Pencampuran dan pengadukan beton dilakukan dengan mengguanakan mesin pengaduk molen dengan nilai Slump yang direncanakan yaitu 25,4 – 101,6 mm. benda uji yang digunakan adalah cetakan baja berbentuk silinder dengan tinggi 30 cm dan berdiameter 15 cm sebanyak 8 buah, dengn mutu beton yang diinginkan adalah mutu beton degan nilai FAS 0,5.

BAB II
MATERIAL, BENDA UJI, DAN METODE, PENGUJIAN

2.1. MATERIAL
            Material utama yang digunakan dalam pembentukan beton agregat, semen, dan air, Agregat dari Coarse aggregate yang berupa kerikilq dengan butiran >5 mm dan pasir halus ( fine Sand ).
            Semen yabng digunakan adalah Portland cement tipe I Padaqng. Air yang digunakan adalah air bersih dengan ketentuan ph lebih kurang berasal dari PDAM yang tersedia di lab. Kontruksi dan Ilmu Bahan Bangunan Fakultas Teknik Muhammadiyah.
2.1.1.
Aggregate untuk beotn adalah butitran mineral keras yang bentuknya mendekati bulat dengan ukuran antara 0.075-40 mm. Aggregate yang digunakan adalah aggregate alam berupa coarse anggregatte (krikil),  coarse send  ( pasir kasar ), dan fine sand ( pasir halus ). Dalam campuran beton. Aggregate bahan penguat dan pengisi, dan menempati sekitar 75% dari volume total beton.
Keutamaan agregate dalam peranannya di dalam beton :
v  Menghemat penggunaan semen Portland
v  Menghasilkan kekuatan besar pada beton
v  Mengurangi penyusutan pada pengerasan beton
v  Dengan gradasi agregate yag baik dapat tercapai beton yang padat
A.    Agregate Halus
Agregate halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batuan-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat pemecah batu. Agregate ini yang dihasilkan oleh alat pemecah batu. Agregat ini berukuran 0,075-5 mm, dan meliputi pasir kasar ( coarse sand ) dan pasir halus * Fine Sand ).  Menurut PBI agregat halus harus memenuhi syarat sebagai berikut :
v  Agregat halus harus terdiri dari butiran-butiran tajam, keras, dan bersifat kekal artinya tidak hancur oleh pengaruh cuaca dan tempratur.
v  Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% ( ditentukan terhadap berat kering ). Bila berlebih 5% harus di cuci.
v  Agregat harus tidak boleh mengandung bahan organis terlalu banyak dan harus dibuktikan dengan percobaan warna dari ABRAMS-HARDER dengan larutan NaOH 3%.
v  Angka kehalusan (fineness Modulus) antara 2-3,2
v  Agregat harus halus terdir dari butiran beranekaragam besarnya.

B.     Agregat kasar
Agregat kasar bias juga disebut kerikil sebagai hasil desintegrasi alami dari batuan atau berupa batu pecah yang diroleh dari industri pemecah batu, dengan butirannya berukuran antara 5-40 mm. ketentuan agregat kasar antara lain :
v  Agregat kasar harus terdiri dari butiran yang keras dan tidak berpori. Agregat kasar yang butirannya pipih hanya dapat dipakai jika jumlah butir-butir pihnya tidak melampaui 20% berat agregat seluruhnya dan memiliki batas panjang tertentu.
v  Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dasri 1% dalam berat keringnya. Bila melampaui harus di cuci.
v  Agregat kasar tidak boleh mengandung zat yang dapat merusak beton, seperti zat yang relative alkali.
v  Agregat kasar untuk beton dapat berupa kerikil alam dari batuan pecah.

2.1.2. Semen Portland ( Portlad Cement )
            Bahan pengikat hidrolisis yang paling utama adalah semen Portland, disebut pengikat hidrolisis karena semen Portland akan mengikat ( Sifat adesi dan kohesi ) apabila diberi airdan kemudian terjadi reaksi kimia (Proses hidrasi) yang bermula dari pasta semen yang plastis menjadi kaku dank eras. Semen Portland hidrolisis dihasilkan dengan cara mengeliling halus klingker (mineral pembentuk semen), terutama dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidrolisis dan gips sebagai bahan pembantu.
Sesuai dengan tujuan pemakaiannya, semen Portland, terbagi dalam 5 jenis yaitu :
v  Tipe I, yaitu untuk konstuksi secara umum.
v  Tipe II, yaitu untuk konstuksi secara umum terutama sekali bila disyaratkan agak tahan terhadap sulfat dan panas hidrasi yang sedang.
v  Tipe III, yaitu untuk konstuksi yang menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi
v  Tipe IV, yaitu konstuksi yang menuntut persayaratan panas hisrasi yang rendah.
v  Tipe V, yaitu untuk kontruksi yang menuntut persyaratan sangat tahan terhadap sulfat.
Dallam praktikum ini, semen Portland yang kami gunakan adalah semen Portland tipe I PADANG dengan specific gravity 3,15.

2.1.3 Air
Air yang dipergunakan sebagai bahan pereaksi dalam campuran beton dan perawatannya harus bebas dari minyak, asam alkali, garam-garam, bahan-bahan organis, bahan-bahan yang dapat merusak beton dan zat-zat reaktif lainnya (pH  6,8 – 7). Dalam hal ini sebaiknya digunakan air yang dapat diminum. Jumlah air yang dipakai untuk membuat adonan/cetakan harus tepat dengan perbandingan berat atau isi sesuai dengan yang telah direncanakan.
Pada percobaan ini, air yang digunakan adalah air bersih dengan ketentuan pH normal dan berasal dari PDAM yang tersedia di Lab. Konstruksi dan Ilmu Bahan Bangunan Fakultas Teknik UNMUHA.
2.2. BENADA UJI
Kekuatan karakteristik beton diperoleh dari hasil pengetesan sejumlah benda uji beton. Benda uji beton dapat berbentuk kubus 15x15x15 cm3, kubus 20x20x20 cm3 dan silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Berdasarkan PBI 1971, benda uji standar ialah kubus 15x15x15 cm3 sedangkan menurut ACI 211.1-77 adalh silinder berdiameter 15 cm dengan tinggi 30 cm.
Pada percobaan ini mutu beton yang direncanakan adalah mutu beton dengan FAS 0,525 dengan menggunakan benda uji berbentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm sebanyak 5 buah.
Slump yang direncanakan adalah  60-180 mm mengetahui kekentalan campuran yang direncanakan.

2.3. METODE PENELITIAN
     2.3.1. Sifat – sifat Fisis Agregat
Untuk menentukan sifat-sifat agregate, digunakan metode beritish standar (BS)dan American society for material (ASTM).
Berat penyelidikan berat volum ( Bulk Density ) dilaksanakan berdasarkan metode BS 812.
Berat jenis ( Specivic Gravity ) aggregate adalah perbandingan berat sejumlah sama. Specivic Gravity dibedakan dalam dua keadaan yaitu keadaan jenuh permukaan ( Saturated surfave dry ) dan kering ( oven dry ) berdasarkan metode metode BS 812, pengukuran dilaksanakan dengan dua cara, yaitu penimbangan diluar dan di dalam air untuk kerikil, dan untuk pasir berdasarkan metode Thawlow’s.
     Analisa saringan ( Sieve Analysis ) bertujuan menguraikan susunan butiran agregat yang diperoleh dari hasil penyaringan benda uji dengan menggunakan beberapa fraksi saringan. Dalam hal ini saringan standar yang digunakan berdasarkan metode ASTM. 



2.3.2. Kandungan Organisme dalam Pasir
     Jika aggregate campuran beton mengandung bahan organic akan mengakibatkan proses hidrasi terganggu, sehingga dapat mengurangi kekuatan beton. Untuk itu pasir harus diperiksa kandungan organiknya dengan menggunakan metode Abraham’s harder ASTMC – 40 – 73.
    
2.3.3. Komposisi Campurqan Beton ( Concreate Mix Design )
     Setelah bahan-bahan yang digunakan dalam campuran beton teliti sifatnya, kemudian perencanaan komposisi campuran berdasarkan SK.SNIT-15-1990-03.






BAB III
PEMERIKSAAN MATERIAL, PERHITUNGAN KOMPOSISI CAMPURAN DAN PEMBUATAN BENDA UJI

3.1 PEMERIKSAAN MATERIAL
3.1.1 Berat Volume ( Bulk Density )
Tujuan : untuk menentukan berat volume pada agregat
Langkah:
Benda uji yang telah di keringkan dalam oven di keluarkan dan di biarkan dingin. Kemudian agregat di isi ke dalam container yang terdiri dari tiga lapisan. Setiap lapisan dipadatkan dengan tongkat sebanyak 25 kali tumbukan. Terakhir.diisi hingga penuh dan  di ratakan, lalu di hitung beratnya. Hal ini di lakukan sebanyak 3 kali.

3.1.2 Analisa Saringan ( Sieve Analysis )
Tujuan : Sebagai tolak ukur klasifikasi pemeriksaan persyaratan perencefturn campuran agregat untuk beton
Langkah : Benda uji diisi ke dalam saringan yang berukuran 37,5, lg,9,5, 4,'75,2,36, 1,18, b,6, 0,3, 0,15, serta sisa. Saringan di goyangkan dengan tangan beberapa menit. Kemudian masing-masing fraksi benda uji yang tertahan di atas saringan di timbang beratnya.

3.1.3 Berat jenis ( Specific gravity )
Tujuan : Untuk mengetahui volume agregatdalam beton.
Langkah : Benda uji di rendam di dalam air selama 24 jarn dan di keringkan dengan cara di anginanginkan hingga mencapai kondisi SSD. Kemudian di masukkan ke dalam cetakan kerucut pasir yang terdiri dari tiga lapis ( di isi sepertiga-sepertiga bagian cetakan ), setiap lapisan di tusuk 25 kali dengan tongkat pemadat. Setelah permukaan di ratakan, cetakan di angkat vertikal. Bila pasir yang di uji tersebut tidak mengikuti bentuk cetakan  berarti telah dalam keadaan SSD. Benda uji yang telah SSD tersebut diisi ke dalam gelas beserta tutup plat kaca dan di timbang beratnya. Gelas diisi penuh dengan air guna 10 menghilangkan udara yang di kandung benda uji, benda uji yang diisi dalam kontainer, di oven hingga kondisi OD dan di timbang beratnya.

3.1.4 Absorbsi ( Absorption )
Tujuan : Menentukan persentase berat air yang teresap. Absorbsi merupakan persentase perbandingan agregat dalam keadaan SSD dengan OD.
Langkah : Merupakan langkah lanjutan pada penentuan pada berat jenis benda uji. Dari hasil perhitungan berat jenis benda uji dalam keadaan SSD dan OD, kita dapat mencari persentase absorbsi air .

3.1.5 Kandungan Organik dalam pasir ( Organic inpurities )
Benda uji dimasukkan dalam gelas ukur volume 500 cc sebanyak 130 cc. Lalu di tuangkan 70 cc larutan NaOH 3Yo dan 300 cc Aquades kemudian di kocok. Diamkan
selama 24 jarn ( gelas ukur ). Setelah itu perhatikan perubahan warna yang terjadi  pada larutan di atas pasir. Kemungkinan warna yang terjadi :
.i. Jernih, menunjukkan pasir bebas dari bahan organik.
{. Kuning muda" menunjukkan pasir dapat di gunakan.
* Kuning tua, menunjukkan pasir terdapat bahan organik.
Jika pada percobaan yang di lakukan cairan berwarna jernih, menunjukkan pasir dapat di gunakan.

3.2 PERHITUNGAN KOMPOSISI CAMPURAN BETON
Dari perhitungan campuran beton yang di lampirkan, jumlah air yang dibutuhkan adalah 175 liter (didapat secara interpolasi linier). Diketahui bahwa sesuai dengan Perhitungan Campuran Beton yang di lampirkan, maka nilai FAS adalah 0,525. Sehingga jumlah semen yang dibutuhkan :
  
      
Jadi volume beton per  adalah :
Air                   =          175                  liter/cm3
Semen             =          333.33            kg/cm3
Pasir                =          696,23             kg/cm3
Kerikil             =          1185,4             kg/cm3       +
jumlah             =          2389.96           kg/m3




Tabel 3.2.1 Komposisi Campuran Beton
Material
Berat 1 cm3 beton (kg)
Volume 1 Silinder
Volume 5 Silinder
20 % tambahan campuran
Total
Air
175
0,0053
0,0265
0,0053
5,57
Semen
333,33
0,0053
0,0265
0,0053
10,60
Pasir
696,23
0,0053
0,0265
0,0053
22,14
Kerikil
1185,4
0,0053
0,0265
0,0053
37,70
Jumlah
2389,96
0.0212
0,106
0.0212
76,01

3.3 PEMBUATAN BENDA UJI
Setelah dilakuakn mix design, kemudian dilaksanakan pembuatan benda uji dengan mengaduk campuran beton secara berurutan dari Coarse Aggregate, Coarse Sand, dan air kedalam Mollen. Kemudian mollen diputar selam 5 menit. Setelah campuran beton teraduk rata, diadakan beberapa pengujian sbb :
A. Slump Test
Tujuan : Menentukan kekentalan (konsisten) adukan beton.
Langkah : Campuran beton (fresh concrete) diisi kedalam kerucut Abram's yang ditempatkan diatas plat baja, dimana pengisiannya atas 3 lapisan yang setiap
lapisan ditumbuk sebanyak 25x dengan tongkat panjang 60 cm. saat
pengisiian kaki keruncut diinjak sampai cetakan tepat terisi. Lalu keruncut
diangkat vertikal dan di ukur jarak turun permukaan terhadap tinggi semulp.
B. Airmeter
Tujuan : menetukan berpt volume beton dan kandungan udara didalam suatu campuranbeton.
Langkah : Campuran beton diisi keadalam Airmeter atas 3 lapisan dan setiap lapisan ditumbuk 25x dengan tongkat pemadat. Kemudian sekeliling dindingnya diketuk dengan martil karet, agar butiran udara muncul ke permukaan. Ratakan permukaan adukan dan Airmeter ditutup serta dikunci. Airmeter + benda uji ditimbang, untuk mengetahui berat volume udara. Dengan menggunakan pompa pada Airmeter, jarum skala pada manometer d. igerakan hingga terletak pada 0 (nol). Tekan klep nya agar jarum menunjukan pada anggak skala tertentu. Angka itu menyatakan kandungan      udara dalam 1 m3 beton.
Hasil:
Slumps Test                 :7,5 cm
Berat Beton                 :22Kg
Suhu Beton                 :29oc
Kandungan Udara      :0,8

Setelah dilatcukan pemeriksaan diatas, benda uji diisi kedalam silinder.
Pengisian atas 3 lapisan, setiap lapisa ditusuk 25 kali. Sekeliling dinding diketuk dengan martil karet agar beton benar - benar padat.
Selang 4 iarl dari saat pengecoran setiap benda uji diberi Capping yang terbuat dari campuran semen dan 29 Yo air dari banyaknya semen yang dipakai, pasta semen
tersebut dioleskan diats cetakan setebal 1 cm dan ditekan dengan plat kaca. Capping irn digunakan untuk meneruskan tekanan pada campuran beton didalam cetakan. Kemudian dibiarkan 24 jam agar mengeras. Setelah itu dibuka dan dirawat diruang perawatan dalam bak perendfan (Curring).

3.3.1 Pembebanan Benda Uji
Setelah beton berumur 7 hari, tiga benda uji dikeluarkan dari bak perendaman
untuk dikeringkan kemudian dilakukan pengujian kuat tekan beton. Pada umur 14 hari dilakukan lagi uji tekan 5 benda uji. Sebelum diuji, semua benda uji ditimbang beratnya serta diukur dimensinya.
Kuat tekan beton/bendauji dapt dihitung dengan rumus :
o' bi     : Kuat tekan beton
P          : Beban hancur (ton)
A         : Luas penanpang
3.3.2 Pengujian
Pengujian benda uji dilakukan pada umur 7 hari berturut - turut sebanyak 3 benda
uji, dan 5 benda uji pada umurl4 hari. Dari hasil pengujian dapat menentukan kuat
tekan beton pada masing-masing umur tersebut.
Langkah pertama, benda uji dikeluarkjan dari bak perendaman dan dihasilkan
dengan kain lap, setelah itu dibiarkan salama lebih kurang 3 jam untuk pengeringan. '
Langkah terakhir dilakukan pengujian kuat tekan dengan menggunakan penguji portable compressor dengan kapasitas 200 ton.
Kuat tekan beton/benda uji dapt dihitung dengan rumus:
Kuat tekan beton/benda uji dapat dihitung dengan rumus
Keterangan:
O’bi = kuat tekan beton
P = Beban hancur (ton)
A = Luas penanpang
 
3.3.2 Pengujian
Pengujian benda uji dilakukan pada umur 7 hari berturut - turut sebanyak 3 benda
uji, dan 5 benda uji pada umur l4 hari. Dari hasil pengujian dapat menentukan kuat
tekan beton pada masing-masing umur tersebut.
Langkah pertama, benda uji dikeluarkan dari bak perendaman dan dihasilkan dengan kain lap, setelah itu dibiarkan salama lebih kurang 3 jam untuk pengeringan. 'Langkah terakhir dilakukan pengujian kuat tekan dengan menggunakan penguji portable compressor dengan kapasitas 200 ton.
Kuat tekan beton/benda uji dapt dihitung dengan rumus:


P          = beban hancur ( ton )
A         = luas penanpang
            =



BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1. Hasil Pemeriksaan Material
Dari hasil pemeriksaan sifat-sifat material yang dilaksanakan untuk kedua jenis material agregat yaitu agregat halus dan agregat kasar, maka hasil penyelidikan tertera pada tabel berikut :

Hasil pemeriksaan Gradasi Agregat Halus ( Pasir Sungai )
Lubang
Ayakan (mm)
Berat
Tertahan (gram)
Persentase
Berat
Tertahan (%)
Persentase
Komulatif
Berat
Tertahan (%)
Persentase komulatif
Lewat ayakan (% )
4,75
117
12
12
88
2,36
170
17
29
71
1,18
170,8
17
46
54
0,600
256,8
26
72
28
0,300
155,6
16
87
13
0,15
93
9
96
4
Sisa
36
4
100
0
Jumlah
999,2
100
441
259

Modulus Halus Butir =
Hasil Pemeriksaan Berat Jenis Agregat Halus (Pasir Sungai)
Pemeriksaan
I
berat piknometer + pasir + air B1 (gram)
948, 3
Berat Pair setelah kering, B2 (gram)
482,4
Berat Piknometer + air, B3 (gram)
635
Berat Pasir kering muka jenuh, SSD, Bo( gram
500
Berat Jenis
2.58
Berat Jenis
2.68
Penyerapan
4%

hasil Uji Kadar Lumpur Agregat Halus (Pasir Sungai)

No
Uraian
Satuan
Contoh
1
Berat Lering B1
gram
4276,2
2
Berat Kering Pasir Tanpa Lumpur + cawan
gram
642,4
3
Berat Cawan
gram
160
4
Berat Pasir Kering tanpa Lumpur (B2)
gram
482,4
5
Kadar Lumpur
%
0,89

* kadar lumpur = B1-B2 / B1
Hasil pemeriksaan Gradasi Agregat Kasar
Lubang
Yakan
(mm)
Berat
Tertahan
(gram)
Persentase
Berat tertahan
(%)
Persentase
Komulatif
Tertahan (%)
Persentase
Komulatif lewat
Ayakan (%)
37,5
19
9.5
4.75
2.36
1.18
0.6
0.3
0.15
Sisa
Jumlah
513,9
1542.3
346.9
78.4
8.6
0.5
0.3
0.4
0.2
5
2496.5
20.58
61.78
13.90
3.14
0.34
0.02
0.01
0.02
0.01
0.20
100.00
12.04
73.82
87.71
90.85
91.20
91.22
91.23
91.25
91.25
91.46
812.03
87.96
26.18
12.29
9.15
8.80
8.78
8.77
8.75
8.75
8.54
187.97

Modulus halus butir 
Hasil Pemeriksaan Berat Jenis Agregat Kasar

Pemeriksaan
I
Berat kerikil setelah dikeringkan, B1 (gram)
3750
Berat kerikil kering muka jenuh, SSD, B2 (gram)
3808.2
Berat kerikil di bawah air, B3 (gram)
2398
Berat Jenis = B1 / (B2-B3)
2.65
Berat Jenis = B2/ ( B2-B3)
2.7
Penyerapan = {(B2-B1) / B1 )}x 199%
1.552



4.2. Hasil Pembebanan
Hasil pembebanan diperlihatkan pada table 4.2.l :

Tabel4.2.1 Hasil Kuat Tekan Benda Uji  
No
Benda uji
Berat volume (kg)
Beban tekan (ton)
(Kg/cm2)
1
Benda Uji
12,6
20
113,23
2
Benda Uji II
12,6
18
101,91
3
Benda Uji III
12,6
18
101,91

Jumlah


317,05

No
Benda
uji
Berat Volume
(Kg)
Beban Tekan
(ton)
14 hari
(kg/cm3)
1
BendaUji IV
12,5
25
(kg/cm2)
2
Benda Uji V
12,25
25
141,54
3
Benda Uji VI
12,3
18
101,91
4
Benda Uji VII
12,4
26
147,20
5
Benda UJi VIII
12,5
24
135,88

Jumlah


668,07

Keterangan:
v  Silinder yang digunakan sebagai benda uji adalah silinder dengan diameter 15
cm dan tinggi 30 cm.
v   Luas permukaan untuk perhitungan beban tekan adalah luas silinder, yaitu :
v   pelaksanaan pengujian kuat tekan tekan diambil pada benda uji dengan umur 7 dan 14 hari.
v  Factor umur 7 hari       = 0,65
v  Faktor umur 14 hari    = 0,88



4.3. Pembahasan
Perhitunga kuat tekan karakteristik benda uji meliputi :
A.    Kuat tekan Beton Rata-rata
Tabel. 4.3.1 Deviasi Standar
No
 (kg / cm2 )
1
113,23
123,14
98,2081
2
101,91
123,14
450,7129
3
101,91
123,14
450,7129
4
141,91,
123,14
338,56
5
141,54
123,14
338,56
6
101,91
123,14
450,7129
7
147,20
123,14
578,8836
8
135,88
123,14
162,3076

Jumlah

2868,658

Deviasi standar merupakan tolak ukur dari mutu pelaksanaan pekerjaan
pembetonan. Berdasarkan PBI 1971 Deviasi Standar (S) diperoleh dari rumus :
B.            Kuat tekan karakteristik
Sesuai dengan rekomendasi Internasional untuk perencanaan serta pelaksanaan bangunan beton, melalui Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 NI-2, menentukan minimum 20 benda uji dengan persentase defektif 50/o huga k yang diambil 1,64.
Apabila jumlah benda uji diambil/dipilih lain_maka harga k dievaluasi menurut dalil matematika statistika. Maka harga k unutk 8 benda uji dan persentase defektif sebesar 5% adalah 0,656.

Kuat tekan karakteristik :
Keterangan :

Berdasarkan hasil kuat tekan diatas, maka dapat dilihat bahwa persentase kekuatan beton terhadap mutu beton yang direncanakan adalah:
= 36,00%

4.4. Pembahasan
Dari hasil percobaan kuat tekan beton karakteristik, penelitian secara  menyeluruh dan mengamati segala kemungkinan selama praktikum dapat diambil suatu pemyataan bahwa kuat tekan beton karakteristik sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan pembentuknya dan proses perawatan beton tersebut. Disamping itu terdapat pula faktorfaktor tambahan lainnya, antara lain : Faktor Air Semen ( FAS ), proses pencampuran, proses pemadatan, proses perawatan dan umur benda uji, dimana pengaruh perawatan juga berpengaruh terhadap kekuatan beton karakleristik. Berdasar tabel di atas diketahui bahwa kekuatan beton karakteristik sebesar 109,861 kglcm2 (36,00) o/o dari mutu beton yang direncanakan. Mutu beton yang tidak sesuai dengan yang telah direncanakdn dapat disebabkan oleh beberapa faktor.
Adapun hal-hal yang menyebabkan kuat tekan beton karakteristik tidak mencapai l00% adalah adanya kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi diantaranya :

v   Kotoran organik pada aggregate
Bahan organik yang dikandung aggregate dapat mempengaruhi kekuatan beton. Bila pada pencucian aggregate tidak sempuna, akan menyebabkan kandungan kotoranorganik dalam aggregate cukup tinggi, sehingga dapat merusak beton melalui prosesproses kimia yang berlangsung.

v  Persentase air yang dikandung
Persentase air yang dikandung dalam aggregate sangat mempengaruhi terhadap FAS. Bila kita mengetahui kadar air yang terkandung maka kita dapat menentukan FAS yang tepat, sehingga mutu beton yang diinginkan dapat kita peroleh.
v   Kekerasan aggregate
Kekerasan aggregate dapat pula mempengaruhi mutu beton yang ingin diperoleh. Secara logis dapat dikatakan bahwa semakin kuat aggregate semakin kuat pula daya dukung aggregate tersebut sehingga akan lebih besar tekanan yang mampu ditahan oleh beton yang kita buat.
v  Kadar lumpur
Bila kadar lumpur yang dikandung aggregate melebihi batas toleransi, maka
dapat menyebabkan tidak baiknya terjadi ikatan pasta semen sehingga kuat tekan beton berkurang dan menyebabkan beton akan luruh atau hancur. Kandungan lumpur yang dibolehkan tntuk fine aggregate adalah tidak lebih dari 5%dan untuk coarse aggregate tidak lebih dan l%.
Dalam pelaksanaan perencanaan carnpuran beton harus diperhatikan kekurangan dan kelebihan yang terdapat pada bahan-bahan dasar pembentuk beton. Oleh sebab  itu  diperlukan ketelitian yang tinggi sehingga didapat komposisi yang tepat dan seimbang sesuai dengan perbandingan kadar bahan yang telah diizinkan yang pada akhirnya didapat mutu beton yang diinginkan.


BAB V
PENUTUP

5.l Kesimpulan
Dari hasil prallikum yang telah dilaksanakan maka diperoleh kuat tekan beton karakteristrk (o'bk) sebesar l}9,867 kg/cr*. Kuat tekan beton nta+ata (o'bm) 123,14 dengan nilai deviasi standar (S) sebesar 20,243 kg/"tt?. Persentase mutu betonnya adalah 36,00 o/o dari nnrtu yang direncanakan. Tinggi slump yang drperoleh 7,5 cm, memenuhi syarat tinggi slump yang direncanakan yaitu25,4-101,6 mm. Hasil penelitian si,fat-sifat fisis aggregate yang digunakan telah memenuhi syarat yang ditetapkan oleh SK.SNI T-15-1990-03 dan PBI (Peraturan Beton Indonesia l97l).
Kesalahan-kesalahan pada hasil penelitian kuat tekan beton ini disebabkan
anatara lain :
Kekeliruan dalarn perhitugan perbandingan bahan-bahan pencampur yang digunakan, kurangya ketelitian saat menimbang, mencampur dan mengaduk beton sehingga mempengaruhi komposisi c{tmpuran beton.
Pada pembuatan benda uji pemadatannya kurang dan terlalu berkumpulnya material yang halus atau material yang kasar saat memasukkan campuftul beton kedalam cetakan. Hal ini akan menyebabkan kekuatan beton tidak merata padd setiap bagian benda uji.
Melakukan pengujian pada waktu kurang dari toleransi yang diperbolehkan
setelah benda uji dikeluarkan dari bak perendaman pada setiap pembebanan sehingga
mutu beton menjadi tidak maksimum.

5.2 Saran
Dalam pelaksanaan praktikum ini penulis menyadari agak kurang teliti. Untuk itu, masih banyak hal yang harus diperbaiki dan ditingkatkan guna berhasilnya pelaksanaan praktikum dimasa mendatang. Perencanaan untuk menentukan kekuatan beton diperlukan ketelitian dan kesungguhan yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukannya sikap saling membutuhkan antara pembimbing dengan pelaksana praktikum untuk mendapatkan kuat tekan beton seperti yang direncanakan.
Berdasarkan pengalaman selama melaksanakan praktikum, penulis menghimbau kepada mahasiswa yang akan melaksanakan praktikum dimasa mendatang, diharapkan dapat memahami materi kuliah sebelum melakukan praktikum. Ketelitian dan kehati hatian dalam melaksanakan praktikum harus ditingkatkan, serta dituntut pula kekompakan antara sesama praktikan agar hasil kerja maksimal.
Kepada karyawan dan staff laboratorium, hendaklah bimbingannya lebih ditingkatkan, sehingga ketidaktelitian dalam menimbang dan menguji dapat dikurangi




















DAFTAR PUSTAKA

Hanafiah M.A : 1995, Panduan Praktikum Komposisi Campuran Beton Struktural, Labolatorium Kintruksi Dan Bahan Bangunan Ft Unsyiah, Banda Aceh.

Ir. Mochtar R : 1982, PUBI – 1982, Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jemdral Cipta Karya, Bandung.

Murdock L.J : Brook K.M : Ir. Hindarko S : 1999, Bahan Dan Praktek Beton, Erlangga, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar